JOURNAL / KARYA TULIS

THE IMPLEMENTATION AND DISCOVERY OF BEST SIGNIFICANT INDICATORS OF HIGH SCHOOL QUALITY PARTICULARLY BOTH QUALITY PROSES AND OUTPUT

Alhamdulilah karyatulis Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal tahun 2016-2018 di SMAN 20 Jakarta,

educational research discovery has been in press in Science Nature on 29th August 2019, http://sciencenature.fmipa.unpatti.ac.id/
tittle: The implementation & discovery of best significant indicators of high school quality particularly both quality process &output

According to it’s plagiarism check, the similarity index is only 8% which means that it is pure work.

The Problematic of Education System in Indonesia and Reform Agenda

http://bit.ly/journalinternational

E-learning champions in SMAN 20 Jkt

https://transformlead21.com/project-completion-reports/technology-and-school-change/

  MENEBAR VIRUS
SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL
(SPMI )

  Agnes Sukasni,

Kepala SMAN 20 Jakarta

Setidaknya ada 3 ciri pendidikan sebagai taman yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu pertama, kemerdekaan. Kita datang ke taman karena kesukarelaan, bukan paksaan dari pihak lain. Pendidikan bukanlah menuntut anak, tapi menumbuhkan kesukarelaan anak untuk belajar. Bukan terpaksa belajar, tapi gemar belajar.Kedua, ketertiban. Meski kita merdeka datang ke taman, tapi bukan berarti bebas sesuka hati. Pendidikan mendidik anak-anak untuk berlaku tertib. Bukan tertib yang paksakan, tapi tertib yang tumbuh dari kesadaran untuk menjaga kegembiraan bersama.Ketiga, kebahagiaan. Orang datang ke taman bukan bertujuan untuk mendapatkan piala atau jadi juara, tapi datang untuk bersenang hati. Pendidikan bukan untuk mencetak manusia juara, tapi manusia bahagia. Kebahagiaan dapat dicapai bila anak bisa mengaktualisasikan potensi dirinya. Setiap anak mempunyai kodratnya sendiri. Pendidik tidak bisa memaksa atau mendikte, tapi hanya bisa menuntut tumbuhnya kodrat tersebut. Selanjutnya, pencapaian kebahagiaan tercapai ketika anak bisa menggunakan potensi dirinya untuk memberi manfaat pada orang lain.

Gagasan Ki Hajar Dewantara ini kembali di tegaskan oleh Bapak Anies Baswedan. “Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa pendidikan sebagai taman, yakni tempat yang menyenangkan, tempat anak-anak datang dengan senang hati, dan pulang dengan berat hati,” yang pernah diutarakan beliau di harian Kompas.

Sekolah sebagai taman dan menjadi rumah kedua bagi peserta didik dan guru bukan merupakan suatu hal yang mustahil untuk dilakukan. Obsesi ini muncul karena fenomena dalam dunia pendidikan yang tampak dibebani dengan materi pelajaran yang terlalu sarat dan padat. Akibatnya peserta didik dan guru menjadi jenuh,  dan enggan untuk pergi ke sekolah. Berangkat belajar dan bekerja ke sekolah hanya menjadi rutinitas dan keterpaksaan belaka.

Dengan kondisi seperti ini, bagaimanakah dengan proses kegiatan belajar mengajar dan prestasi peserta didik dan guru ? Proses kegiatan belajar mengajar hanya sekedar rutinitas, perilaku kurang baik peserta didik yang pada umumnya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah  menambah beban kerja guru ; guru pun berperilaku masabodoh karena menganggap peserta didik bukan bagian dari hidup mereka. Bangga dengan prestasi apa adanya. Sekolah yang selalu mendapat cibiran sebagai sekolah preman , sekolah berkualitas rendah dan tidak bermutu, hanya menjadi pilihan terakhir siswa SMP disaat memilih sekolah negeri lanjutan, nilai rendah diterima untuk memenuhi bangku yang masih kosong, rendahnya perilaku baik yang dimiliki peserta didik, rendahnya motivasi belajar peserta didik, rendahnya motivasi  kerja dan mengajar guru dan karyawan, rendahnya hasil nilai Ujian Nasional, rendahnya peserta didik yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri serta rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja sekolah.

.Sungguh sangat disayangkan, salah satu Sekolah Negeri yang telah berdiri cukup lama sejak 1966 dan letak geografis  sangat strategis berada di pusat wilayah Jakarta belum menjadi contoh ,barometer untuk sekolah disekitarnya maupun sekolah di wilayah lain. Tantangan yang sangat berat siapapun Kepala Sekolah bertugas ditempat ini.

 Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan DKI Jakarta yang jeli melihat kondisi SMAN 20 Jakarta tepatnya berada di Jl.Krekot Bunder III/1 Pasar Baru Jakarta Pusat dipilih untuk mendapatkan program pendampingan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sejak Tahun Ajaran 2017-2018 hingga sekarang. Tanggung jawab, kepercayaan, beban moral sebagai sekolah model yang nantinya harus mampu untuk menularkan minimal kepada sekolah didekatnya (sekolah imbas) selanjutnya sekolah sekitarnya menjadi tantangan tersendiri dan modal dasar untuk berubah.

Di awal pendampingan dengan terseok-seok,tertatih-tatih,banyak cibiran : apa itu sekolah model? Model baju, peragawan/i apaan?, pesimis, skeptis, resistensi di zona nyaman ; namun dengan semangat untuk perubahan menjadi lebih baik, bersama-sama peserta didik, guru, karyawan, orangtua siswa untuk komitmen, konsisten mengikuti program pendampingan ini.

Strategi awal pendampingan dari LPMP DKI Jakarta dengan dibentuknya Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Sekolah(TPMPS), bersama-sama dengan Pengawas beserta Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Daerah (TPMPD) yang berasal dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta beserta jajarannya. Dalam program pendampingan mendapatkan banyak hal baru ,membuka wawasan manajerial ke arah yang lebih baik dan bermutu. Belajar menetapkan standar mutu, pemetaan mutu,menyusun rencana pemenuhan mutu,melaksanakan pemenuhan mutu, dan evaluasi pemenuhan mutu dari 8 standar yang terdiri dari Standar Isi, Standar Proses,Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana , Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan dan Standar Penilaian Pendidikan.

Yang menarik lebih spesifik lagi menganalisis dari masing-masing indikator, sub indikator menemukan dan mengobati “penyakit”, atau “kutu” dalam rapor mutu 8 (delapan) standar kondisi sekolah, kemudian menerapkan  siklus Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan.

   Ada keunikan dalam proses pelaksanaan program pendampingan ini , ketika mengalami hambatan utama dan terutama di

1.  Sumber Daya Manusia.

Budaya penolakan (resistance) yang kuat terhadap setiap perubahan, termasuk perubahan ke arah perbaikan mutu, dari pemangku kepentingan internal, guru, maupun tenaga kependidikan;Gaya kepemimpinan  Kepala Sekolah imbas dan sekitarnya yang kurang optimal ;Lemahnya komitmen dari pemangku kepentingan internal maupun institusi pendidikan ;;Keterbatasan jumlah dan kompetensi sumber daya manusia pada sekolah yang memahami tentang Sistem Penajaminan Mutu Internal ini secara utuh dan benar;Sikap maupun pendapat bahwa tanggungjawab untuk menjamin meningkatkan,dan membudayakan mutu hanya terletak pada operator di sekolah dan bukan pada setiap individu yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan;Kelemahan dalam sosialisasi terhadap seluruh pemamngku kepentingan, termasuk juga kesalahan strategi pengelolaan organisasi;Peserta yang mengikuti pendampingan selalu berganti-ganti, sehingga target yang diharapkan tidak tercapai;Kurangnya kehadiran peserta baik dari sekolah imbas maupun sekitarnya ;

2. Administratif

Terdiri dari :Kebiasaan bekerja tidak berdasarkan standar yang terdokumentasi yang harus selalu dievaluasi dan dikembangkan ; Keterbatasan dukungan teknologi informasi sebagai salah satu motor penggerak demi keberhasilan implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal di sekolah; dan dari sekolah imbas terdapat Sekolah Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) mengalami kesulitan mengakses raport mutu.

3..Organisatoris

Keterbatasan pemahaman SPMI, komunikasi antara Kepala Sekolah, TPMPD, Pengawas, guru , tenaga kependidikan , peserta didik dan komite sekolah sehingga informasi tidak tepat sasaran;Keterbatasan sumber dana untuk membiayai persiapan, implementasi, evaluasi dalam pengembangan SPMI;Pelaksanaan waktu pendampingan sekolah model maupun imbas yang sangat terbatas (kurang lebih 3 bulan);Pendampingan dilaksanakan per tahun pelajaran bukan per tahun anggaran sehingga terjadi kesulitan realisasi kegiatan dengan e-RKAS .

4. Psikologis

Komitmen, konsisten yang rendah dari pemangku kepentingan dalm mengimplementasikan SPMI secara terus menerus dan berkelanjutan; sikap resistensi dari sumber daya manusia, misal sikap mengabaikan, menganggap remeh atau sinis terhadap sistem dan proses penjaminan mutu;

Bagaimanakah Cara Mengatasinya ?

Dalam rapat kerja dewan guru di tahap awal pendampingan SPMI disepakati menetapkan standar mutu, pemetaan mutu,menyusun rencana pelaksanaan program Literasi dan Penguatan pendidikan karakter; yang kemudian dikomunikasikan, sosialisasi program kegiatan kepada seluruh warga sekolah, orangtua peserta didik , selanjutnya dilakukan komitmen bersama untuk konsisten dalam pelaksanaan program kegiatan.

Perubahan itu tidak mudah, dengan menggunakan pendekatan personal dan persuasif atau pendekatan sistem bila menghadapi penolakan serta diperlukan contoh baik, keteladanan, kedisiplinan dan ketertiban administratif perangkat pembelajaran guru. Peran Kepala Sekolah sangat penting dan strategis untuk implementasi SPMI , dengan mensupervisi pengembangan RPP berbasis kompetensi abad 21 (4C,Literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter).  Langkah awal untuk menularkan virus perubahan membutuhkan  Kepala Sekolah, guru dan tenaga kependidikan sebagai agent perubahan.

Melakukan pembiasaan penguatan pendidikan karakter budaya salam dari pintu masuk gerbang sekolah, budaya religius setiap pagi sholat berjamaah, budaya nasionalis dan integritas setiap pagi menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 (tiga) stansa dan mars Penguatan Pendidikan Karakter, Budaya baca setiap pagi 15 menit untuk literasi dan di akhir minggu mengumpulkan hasil tulisan. Budaya gotong royong dengan hal kecil memilah sampah menjadi 3(tiga) bagian : sampah kertas, sampah plastik, sampah sisa makanan.Memperbanyak kegiatan yang melibatkan peserta didik beserta orangtua dalam proses belajar mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas/sekolah seperti membuat pojok literasi, pohon harapan, mengembangkan seni kriya di setiap hari besar nasional, kunjungan ke perpustakaan nasional, museum-museum yang berada di dekat sekolah, melakukan kunjungan belajar ke kampus-kampus terkenal seperti Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, menggali-mengembangkan potensi, talenta peserta didik dan menyediakan sarana prasarananya di non akademik ; mendatangkan narasumber untuk memotivasi dan membuka wawasan memilih Perguruan Tinggi dan lapangan pekerjaan, serta melaksanakan pelayanan setelah Ujian Nasional Berbasis Komputer berupa pelatihan menghadapi Ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri; dan yang utama dalam pelayanan peserta didik adalah melayani mereka seperti anak sendiri, serta membuat mereka nyaman berada di sekolah.

Dalam jangka waktu 1 (satu) tahun terlihat hasil dari program pendampingan SPMI yang sangat signifikan berupa perubahan karakter setiap peserta didik dan guru dilihat dari berkurangnya peserta didik yang terlambat, dengan senyum riang di pagi hari masuk ke sekolah. Jiwa Nasionalis, religius terlihat dengan sikap santun, menghormati antar peserta didik,guru dan tamu yang datang ke sekolah; prestasi ekstrakurikuler yang terus melejit mengharumkan nama sekolah.Melihat ekspresi peserta didik yang bangga dengan  prestasi guru dan Kepala Sekolahnya baik tingkat DKI Jakarta maupun internasional turutserta mengharumkan di tempat mereka menimba ilmu. Peserta didikpun memberi persembahan yang luar biasa dengan peningkatan lebih dari 100 % dari tahun sebelumnya yang di terima di Perguruan Tinggi Negeri.

Untuk mengurangi kejenuhan pada saat pendampingan sekolah model SPMI ke sekolah imbas dan sekolah sekitarnya, dilakukan perubahan metode pendampingan, yang awalnya hanya satu arah, dilakukan banyak program simulasi disetiap pertemuan dan dilakukan pameran kecil hasil produk dari sekolah imbas dan sekitarnya yang kemudian dalam panel diskusi dibahas mengenai kemajuan manfaat, hambatan beserta peluang dari hasil pendampingan tersebut.

Di tahun ke 2(dua) pembimbingan program pendampingan SPMI dari LPMP DKI Jakarta, sekolah melaksanakan peningkatan program Kewirausahaan dan ramah anak dengan tetap melanjutkan program literasi dan penguatan pendidikan karakter yang telah dilaksanakan di tahun sebelumnya, hal ini dilakukan untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan ekonomi kreatif industri 4.0. Kepala Sekolah melaksanakan supervisi terutama Rencana Pengajaran Pembelajaran setiap guru agar dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar memberi stimulus berupa soal-soal dengan kategori High Order Thinking Skill kepada peserta didik serta membuat project di setiap matapelajaran kemudian mampu untuk melihat peluang pasar dan dikembangkan pemasaran hasilnya.

Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan pendampingan kewirausahaan dan ramah anak untuk setiap mata pelajaran diperoleh hasil produk antara lain berupa budidaya hidroponik, budidaya lele, pada seni dikembangkan batik, cukil, melukis payung, mural , seni kriya dari bahan daur ulang, dan yang tidak kalah membanggakan dari hasil pendampingan LPMP DKI Jakarta untuk peserta didik, guru, tenaga kependidikan,orangtua  adalah dengan meningkatnya nilai akreditasi tahun 2018 dengan memperoleh nilai 98 predikat UNGGUL.

Terimakasih banyak Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan DKI Jakarta yang telah memilih dan melaksanakan Program Pendampingan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan   kami dapat tersenyum dan merasa bangga sebagai peserta didik, guru, tenaga kependidikan, orangtua peserta didik dan Kepala Sekolah di sekolah kami tercinta SMAN20 Jakarta.

VIDEO